Cerpen Remaja : "I Love You, My First Love!"

Hai para blogger, kali ini aku bakal update cerpen nihh, yang buat temen aku loo :D..Biasanya kalian para ABG suka sama cerpen kan...Kalian penasaran?? ,kalo penasaran silahkan dibaca aja....
Judul : I Love You, My First Love!
Pengarang : Karina Rizky Putri (Karina)



I Love You, My First Love!
        Bukan kali pertamanya Cici terlambat sekolah. Ya, karena sebelumnya ia harus berjualan dulu. Sepedanya sudah rusak, jadi Cici harus berjalan kaki ke sekolah. Nenek dan kakeknya sudah cukup menderita, sehingga ia tak berani meminta kepada mereka.
        Dengan langkah terburu-buru, Cici menuju ke kelasnya. Di tengah jalan, ia bertabrakan dengan seorang anak laki-laki. Sepertinya, Cici baru pertama melihatnya. Anak itu meminta maaf pada Cici. Guru segera memanggil Cici dan meminta Cici mengaja anak tadi ke kelasnya. Benar saja, ia adalah teman sekelas Cici yang baru, dari luar kota. Namanya Fiqi. Ia kemudian duduk tepat di depan Cici.


“Untunglah ada perkenalan anak baru tadi, aku nggak jadi dihukum,,”kata Cici perlahan sambil menghela nafas. Dia duduk dibawah pohon bersama Lina dan Kino. Tak lama, Fiqi datang menghampiri mereka.
“boleh aku bergabung dan duduk disini?”
“tentu saja, silahkan.” Jawab Kino.

           Dari situlah, mereka mulai akrab. Hari demi hari mereka jalani bersama, sebagai empat sekawan. Namun, Cici terus bertanya-tanya, Fiqi,seorang anak kaya raya, mau bergaul dengan Cici, Lina, dan Kino ? Dalam lamunan itu, Fiqi menghampirinya. Lalu menyodorkan teh hangat, sangat cocok dengan udara dingin menusuk siang ini, dengan hujan di luar sekolah. Cici berterimakasih pada Fiqi.
   “Kamu nggak papa? Kalo ada masalah crita aja nggak papa kok..” kata Fiqi sambil meneguk teh yang ia bawa.
   “hmm.. gimana ya,, sebenernya, aku Cuma bingung aja, kok orang kaya kayak kamu, mau bergaul sama aku, Lina, sama Kino yang dari keluarga kurang mampu?”
           Tawa Fiqi memecah ketegangan antara mereka. Entah bagaimana, suasana mencair. Fiqi ikut menatap keluar. Hujan disana. Lalu membuka buku pelajaran yang ia pelajari di kantin. Tak ada jawaban dari Fiqi. Lalu lintas para siswa makin ramai, meski istirahat masih 15 menit.
Cici tak tahu apa yang Fiqi pikirkan. Tiba-tiba, Fiqi mengajakku untuk shalat Duha. Di perjalanan ke sana, Fiqi menjelaskannya.
    “Semua orang sama derajatnya di mata Allah, yang membedakan adalah iman, bukan harta. Kita sama-sama anak Indonesia, kita nggak usah bedain kaya atau nggaknya. Yang penting kebaikan hati sama nyaman nggaknya kita deket mereka. Buat apa temenan sama orang kaya tapi nggak asik.” Kata Fiqi sambil tersenyum.
           Setelah shalat duha, Cici pergi duluan ke kelas, duduk di mejanya sendirian. Lalu teringat pada nenek kakeknya. Ia memikirkan, bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang untuk membeli hadiah pernikahan nenek kakeknya.
               Bel berbunyi, pikirannya kembali fokus. Ia kembali bersemangat belajar untuk mempertahankan posisi rangking 1 nya, ia tidak ingin mengecewakan kakek neneknya. Istirahat kedua, setelah shalat dzuhur, hujan reda. Cici bersama Lina memakan bekal nasi yang mereka bawa dari rumah. Mereka tidak ke kantin karena tak ada uang untuk jajan. Kino juga ikut makan bersama mereka.
   “Ci, dari tadi, kamu kayak mikirin sesuatu, ada apaan sih?” Tanya Kino tiba-tiba.
   “ini, aku bingung, dimana caranya aku dapet uang buat beli kado pernikahan kakek nenekku?”
Tanpa mereka sadari, Fiqi mendengar pembicaraan mereka, ia sengaja tidak muncul untuk memberi kejutan. Munculah ide di kepala Fiqi.
 “ya udah, kita coba kumpulin uang aja, siapa tau bisa buat beli sesuatu” kata Lina
 Ketiganya mengangguk setuju. Sepulang sekolah, Cici bertanya kepada Lina dan Kino,
 “eh, kok dari istirahat tadi, kita gak bareng Fiqi? Kemana dia?”
 “katanya sih ada urusan, kenapa Ci? Kangen ya sama Fiqi?” pertanyaan aneh mulai keluar dari mulut  Lina. Meski begitu, mereka tertawa lepas, memang terdengar aneh. Tapi malah terngiang-ngiang di  pikiran Cici.
***
“Tok tok tok” suara ketuk pintu terdengar dari dalam. Cici segera membukakan pintu. Ia terkejut melihat Fiqi berdiri disana dengan pakaian rapi,
“mau kemana Fiq? Duduk dulu..”
“nggak usah, ayo cepetan.. kita beli hadiah buat kakek nenek kamu, mereka lagi di sawah ya?”
“hah? Iyaa masih di sawahnya Pak Bandi. Tapii uangnya be..”
“udah cepetan,, nanti soal biaya.. aku bantu” ucapnya sambil meraih tangan Cici
***
Sampai di swalayan, Fiqi mengajak Cici memilih barang, sementara pak sopir memarkirkan kendaraan
“mau dikado apa Ci?”
“Kayaknya, mukena sama sarung aja deh,, kan berguna dunia akhirat tuh” kata Cici sambil tersenyum.
“yang ini bagus,Ci.. couple-an gitu” saran Fiqi
“iya nih, sederhana tapi bagus..tapi,,aku Cuma baru ngumpulin 17ribu,Fiq..”kata Cici sedih sambil memandangi uangnya.
“tenang aja, aku bayarin nggak papa kok..” seperti biasa, Fiqi selalu menjadi penyelamat Cici.             Setelah selesai, Cici diantar pulang ke rumahnya. Tidak lupa ia berterimakasih kepada Fiqi.
            Malamnya, Cici memberikan kado itu kepada nenek kakeknya, Cici juga menceritakan bahwa Fiqi membantunya membeli kado itu. Lalu, ia belajar. Tak seperti biasanya, Cici lebih semangat kali ini. Di pikirannya, ia masih memikirkan perkataan Lina dan terbayang Fiqi.
            Menurutnya,Fiqi adalah seorang laki-laki yang sangat baik, ia pintar, peringkat 2 setelah Cici, ia sholeh, ia tidak pernah berkata kasar, marah, atau berkata kotor. Sosok yang benar-benar ia impikan. Namun ia tahu, ia masih berseragam putih abu-abu. Belum saatnya ia memikirkan itu. Ia berfikir akan memendam perasaan itu. Menyelesaikan belajarnya dan segera tidur.
            Paginya, ia tidak ingin terlambat. Berangkat sangat pagi, sehingga sampai di sekolah tidak terlambat. Kejadian itu terulang lagi, kali ini, Fiqi yang menabraknya. Cici bertanya-tanya, kenapa Fiqi Nampak terburu-buru. Diam-diam, ia mengikuti Fiqi. Ternyata, ia menolong salah satu siswa yang jatuh dari sepeda. Sungguh mulia hatinya, seru Cici dalam hati.
“Ci? Cici? Kamu ngelamun lagi? Ya Allah, kamu jangan keseringan ngelamun deh, mending ikut aku bantu si Arief yang kaki tangannya berdarah. Soalnya tim utama PMR yang berangkat baru aku, Nino, sama Kiran. Ayo”
“oh,, oke Fiq!”
***
Usai itu, Fiqi dan Cici kembali ke kelas. Cici berjalan di belakang Fiqi, memandang sosok seorang laki- laki yang selalu menemaninya. Ya, dia tinggi. 21cm lebih tinggi dari Cici. Dia rajin. Pakaiannya selalu rapi, sepatunya pun bersih.
Lalu mereka duduk di luar kelas. Cici menyodorkan air mineral dan sapu tangan yang ia bawa dari rumah,
“ini, sebagai ganti apa yang pernah kamu lakuin dulu,, emang nggak semahal minuman sama sapu tanganmu, tapi siapa tahu berguna” kata Cici
Sejenak, Fiqi tertawa, “nggak kok, kan sama-sama minuman, sama- sama sapu tangan. Makasih ya Ci”
“iyaa. Eh Fiq, boleh ngomong sesuatu?”
“Apa ci?”
“hmm, nggak jadi Fiq. Mungkin lain kali aja.” Kata Cici sambil tersenyum.
Fiqi mengangguk sambil tersenyum manis seperti biasa.
***
Hari demi hari berlalu, hari kelulusan tiba, memang terasa berat, tapi setiap sesuatu yang berakhir adalah awal dari sesuatu yang lain. Pengumuman juara umum dari semua kelas 12 dan peraih nilai UN paling tinggi diumumkan,
“Selamat yaa,Ci! Kamu hebat banget,… “kata Fiqi panjang kali lebar saat memberi selamat pada Cici
“makasiih yaa Fiq “
“oiya, ada kompetisi matematika,Ci. Kamu harus ikut, hadiahnya, dapet beasiswa sekolah di Oxford University sama Cambridge University lho buat 15 besar “
“tapi kayaknya aku nggak bisa deh Fiq, lagian kalo ke luar negeri aku minder nih, ak kan gak punya biaya buat sekolah di luar negeri..”
“Ah,, kamu tenang ajaa, nggak dipungut biaya kok, malah kamu bakal dapet uang saku” kata Fiqi memantapkan hati Cici.
          Cici menatap mata Fiqi dalam-dalam. Sebenarnya ada pesan yang tak dapat ia sampaikan, alas an sebenarnya ia tak mau ke luar negeri. Semua yang ia pikirkan adalah Fiqi. Karena selama ia bersekolah, setiap harinya ia habiskan waktu dengan Fiqi dan 2 sahabatnya. Ya, ia rasa, ia menemukannya. Her first love.
  Air mata Cici berlinang tiba-tiba. Fiqi tak kuasa melihatnya, ia langsung mengajak Cici ke tempat pendaftaran, ia sangat mendukung Cici.
***
“Ci, kamu lolos !” teriak Fiqi saat melihat kertas yang Cici terima dari pihak sekolah.
Antara senang dan sedih Cici mendengar itu, ia harap Fiqi ikut bersekolah ke luar negeri, tapi Fiqi memutuskan untuk bersekolah di universitas dekat SMA mereka.
         Dua hari kemudian, Cici pergi ke luar negeri untuk menimba ilmu. Ia memeluk sahabat terdekatnya dengan erat walau hanya sebentar, dan menangis. Fiqi memberinya kalung persahabatan, sama persis dengan milik Fiqi.
“Saat kamu ke Indonesia, jangan lupa cari aku ya Ci. Aku akan pake kalung ini terus. Jangan lupa sama aku yaa !” kata Fiqi sedikit serius sambil bercanda.
“okee.. sampai jumpa” kata Cici. Sebelum penerbangan, ia masih melihat Fiqi dari kaca pesawat, dengan lirih ia mengucapkan, “I Love U my first love. I’ll miss you”
***
Kurang lebih 4,5 tahun berlalu. Fiqi melihat ponselnya, ia melihat notice pada tanggal itu, tanggal kembalinya Cici ke Indonesia. Ia masih ingat jelas kejadian terakhir sebelum Cici pergi. Ia segera memberitahu nenek-kakek Cici. Bersama, mereka ke bandara. Setelah menunggu, Cici datang. Ia langsung memeluk nenek kakeknya. Ia juga berjabat tangan dengan Fiqi sambil menunjukkan kalungnya dan mereka tertawa bahagia.
Mereka pulang. Beberapa hari kemudian, Cici sudah mulai bekerja. Di kantor yang sama dengan Fiqi.
***
Jam makan siang, mereka pergi makan bekal di taman.
“Oiya, Ci. Dulu kamu sempet mau ngomong sesuatu tapi nggak jadi. Mau ngomong apa sih?”
“ohh itu.. hmm, jadi.. gimana jelasinnya ya..” senyum malu mengembang di wajah Cici
Fiqi hafal betul itu. “ngomong aja Ci, nggak usah malu”
“Sebenernya aku cuma mau ngomong, kayaknya aku ada rasa sama kamu, hmm…. Itu alesan sebenernya aku nggak mau sekolah diluar negeri. Maaf aku udah lancang suka sama kamu. Tapi, kalo kamu minta aku buat lupain rasa itu, atau kamu mau marah terus ngejauh dari aku, juga gapapa. Aku tau siapa aku ini.” Jawab Cici mengungkapkan perasaan terpendamnya.
Fiqi tak menjawab, mulutnya berhenti mengunyah makanan, ia seakan tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ia menatap Cici, tatapan yang sama dengan tatapan saat pertama kali ia bertemu Cici. Di matanya, Cici, seorang gadis tegar, pekerja keras, cantik, sangat baik hati, dan pintar.
Kemudian Fiqi tertawa, “Jangan bercanda deh,ci”
“Maaf Fiq. Maaf banget. Itu kenyataannya. Kalo kamu nggak percaya, ya udah nggakpapa.”
***
“Abi berangkat dulu ya,Umi” kata Fiqi kepada Cici sebelum ia keluar kota.
Ya, mereka sudah menikah, setelah Cici menyatakan perasaannya, Fiqi pun mengakui, kalau ia telah menyukai Cici sejak pertama mereka bertemu. Satu setengah tahun kemudian mereka mengesahkan hubungan mereka.
“Hati-hati ya,Bi. Jaga kesehatan Abi.” Kata Cici sambil mencium tangan Fiqi.
Sesampainya Fiqi di pertigaan jalan yang menghubungkan kota itu dengan kota lain, sebuah pohon raksasa tiba-tiba tumbang menimpa mobil Fiqi.
Ponsel Cici berbunyi,”Haloo,,”
“Maaf, apa ini keluarga dari Bapak Fiqi yang beralamat di Jl.Cendrawasih no.7?”
“Iya, saya istrinya.”
“kami dari pihak rumah sakit. Pak Fiqi kecelakaan,bu. Beliau terlambat dibawa ke rumah sakit. Akibatnya, nyawanya tak terselamatkan. Ibu dimohon segera ke Rumah Sakit Medika Gumawan.”
“baik, saya segera kesana.” Pikiran Cici kacau, air matanya berlinang. Di perjalanan ke sana, ia terus berdoa agar terjadi keajaiban. Namun, Allah berkehendak lain, kini Fiqi telah tiada.
Setelah pemakaman, Cici kembali ke rumah. Tiba-tiba, asmanya kambuh, sementara obat di rumah habis, karena pembantu dan mertuanya masih di makam, asma tersebut terlambat diobati. Cicipun menyusul Fiqi ke alam lain. Dan meninggalkan secercah kenangan indah mereka.
**tamat**
Nah,gimana temen-temen, ceritanya romantis kan??..Cukup dulu ya temen-temen,besok aku update lagi deh buat nemenin kalian yang suka baca.. :D  Terimakasih :)

Komentar

Postingan Populer